Wasiat asy-Syaikh Badr bin Muhammad
al-Badr hafizhahullah
Masjid Agung Manunggul Bantul
18 Syawwal 1434 H / 25 Agustus 2013 M
Mengakhiri rangkaian muhadharah Dauroh
Nasional Masyaikh ahlus Sunnah IX 1434 H/2013 H, asy-Syaikh Badr berkenan
memberkan nasehat dan wasiat perpisahan kepada segenap hadirin.
Dahulu para Shahabat Nabi apabila
berkumpul dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka mengatakan: “Berikan wasiat kepada kami wahai Rasulullah.”
Sebagaimana diriwayatkan al-Bukhari dari shahabat Abu Hurairah.
Demikian pula
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengirim utusan atau pasukan beliau senantiasa memberikan wasiat
kepada komandannya untuk bertaqwa kepada Allah dan berbuat baik kepada pasukan
yang bersamanya. Juga termasuk kebiasaan para Salaf adalah saling memberi dan
meminta wasiat. Terlebih apa bila wasiat itu disampaikan oleh seorang yang
menjadi teladan. Para ‘ulama sangat memperhatikan tentang wasiat. Syaikhul
Islam Ibn Taimiyah rahimahullah memiliki kitab Washayaa al-Kubrodan Washayaa ash-Shughra. Karena seseorang itu terkadang mengalami berbagai
persoalan dan problem, maka dia pun memberikan nasehat kepada orang yang belum
mengalaminya, atau tidak mengetahuinya, atau terlupa darinya.
Oleh karena itu, atas permintaan agar
aku berikan wasiat sebelumnya kepulangan kami ke negeri kami Saudi ‘Arabia.
Maka aku akan menyampaikan 10 wasiat, walaupun sebenarnya wasiat itu sangat
banyak. Semoga Allah memberikan manfaat dengannya kepada orang yang
mendengarnya.
1. Bertaqwa kepada Allah. Sebagain
‘ulama mengatakan, Taqwa adalah, Allah Ta’ala melihatmu ketika Dia
memerintahkanmu, dan jangan sampai Allah melihatmu ketika Dia memerintahkanmu.
Taqwa adalah obat dan solusi segala kesempitan dan kesulitan, dari musibah dan
bencana. Allah berfirman, “Barangsiapa yang bertaqwa maka pasti
Allah berikan padanya jalan keluar.”
‘Umar bertanya kepada Ubay bin Ka’b,
“Wahai Ubay, apa itu taqwa? Maka Ubay menjawab, “Wahai Amirul Mukminin,
bukankah engkau pernah melawati sebuah jalan yang padanya banyak duri?” “Ya”,
jawab ‘Umar. “Apa yang engkau lakukan ketika itu?” Tanya Ubay. “Aku akan
berhati-hati dengan serius.” jawab ‘Umar (yakni aku akan menyingsingkan bajuku
dan berusaha agar tidak terkenai duri-duri tersebut.) “Itulah taqwa.” kata
Ubay.
خَلِّ الذُّنُوبَ صَغِيرَهَا … وَكَبِيرَهَا فَهُوَ التُّقَى
كُنْ مِثْلَ مَاشٍ فَوْقَ أَرْضِ … الشَّوْكِ يَحْذَرُ مَا يَرَى
لا تُحَقِّرَنَّ صَغِيرَةً … إِنَّ الْجِبَالَ مِنَ الْحَصَى
“Tinggalkanlah
dosa-dosa, yang besar maupun yang kecil. Itulah taqwa.
Jadilah seperti orang yang berjalan di
atas tanah berduri, maka ia waspada terhadap apa yang ia lihat
Janganlah meremehkan dosa kecil.
Sesungguhnya gunung itu tersusun dari kerikil-kecil.”
2. Istiqomah di atas agama. Allah Ta’ala
berfirman, “Istiqomahlah sebagaimana engkau
diperintah.” “Berilah aku hidaya ke jalan yang lurus.” Mohonlah kepada Allah agar memberimu taufiq untuk menempuh jalan yang
lurus, yang tidak ada kebengkokan padanya.
Istiqomah di atas agama, adalah dengan
engkau tidak menambah dan tidak mengurangi agama. Di antara nikmat Allah
kepadamu, adalah engkau termasuk ahlus sunnah. Di antara nikmat Allah kepadamu,
adalah taufiq kepada agama ini. Lihatlah orang-orang yang ada di sekitarnya, di
sana ada yang menyembah berhala, ada yang menyembah sapi, ada yang menyembah
sesamanya. Sementara engkau diberi taufiq untuk beribadah kepada Allah. Engkau
diberi taufiq untuk berada di atas agama Allah, dan diberi taufiq kepada manhaj
yang benar yaitu manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Datang seseorang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah,
ajarilah aku sesuatu yang aku tidak bertanya lagi kepada seorangpun
sepeninggalmu.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Kakatanlah aku beriman kepada Allah. Kemudian istiqomahlah.”
3. Saling menasihati di antara kalian.
Barangsiapa melihat pada saudara ada kekurangan maka nasehatilah. Sampaikanlah
nasehat secara pribadi, bukan di depan umum. asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “barangsiapa menasehati
saudaranya secara tersembunyi, maka sungguh ia telah menasehatinya. Adapun
barangsiapa yang menasehati saudaranya secara terang-terangan di depan umum,
maka ia telah membongkar aib saudaranya.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Agama adalah nasehat.” …
Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali berkata,
“Kami membai’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk senantiasa mendengar dan taat (terhadap pemerintah), dan memberikan
nasehat kepada setiap muslim.”
Nush (nasehat) berasal dari kata nashuh, yaitu (pemurnian/pembersihan). Membersihkan kotoran berupa kekurangan/kemungkaran
dari saudara kita. Sampaikanlah nasehat dengan cara yang lembut agar
lebih bisa diterima.
4. Hendaknya bersemangat menjaga ukhuwwah (persaudaraan) Islamiyah. Allah berfirman, “Maka jadilah kalian dengan nikmat-Nya
sebagai saudara.” Allah ‘azza wa jalla juga berfirman, “Sesungguhnya kaum mukminin itu
bersaudara.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Seorang muslim itu saudara bagi muslim lainnya.” Ingatlah bahwa seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya. Ukhuwwah Islamiyyahmerupakan di antara nikmat Allah yang terbesar kepada
kita. Hendaknya seorang muslim bisa memberikan udzur untuk saudaranya dan
berbaik sangka terhadapnya. Janganlah berprasangka buruk terhadap saudaranya.
Sesungguhnya seorang muslim apabila bersama saudaranya maka dia akan merasa kuat,
dan tanpa saudaranya dia akan merasa lemah.
Kalau seandainya seorang muslim berada
di sebuah negeri yang semua warganya nashara, atau negeri yang semua warganya
Yahudi, atau Budha, bagaimana rasanya? Dia akan takut untuk menampakkan
agamanya. Namun kalau dia bersama saudara-saudaranya muslimin maka dia akan
merasa mulia, kuat, dan berwibawa. Pujilah Allah atas nikmat ukhuwwah Islamiyyah.
5. Aku wasiat kan kepada kalian untuk
senantiasa mendengar dan mentaati waliyyul amr (pemerintah muslimin). Ini adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Allah ‘azza wa jalla, “Taatilah Allah, taatilah Rasul-Nya dan ulil amri di antara
kalian.” Shahabat Abu Hurairah berkata:Waliyyul
amr adalah pemerintah (HR. Ibnu Abi
Syaibah).
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Mendengarlah dan Taatlah walaupun yang memerintah kalian seorang budak
habasyi, kepalanya seperti anggur.” (Muttafaq ‘alahi).
Engkau wajib mendengar dan taat dalam perkara yang ma’ruf. Jika pemerintah itu
muslim, maka engkau bertaqarrub kepada Allah dengan cara mentaatinya. Jika
pemerintah itu kafir, maka engkau mentaatinya agar engkau terhindar dari
mafsadah.
6. Aku wasiatkan kepada kalian untuk
tidak keluar dari ketaatan terhadap pemerintah, tidak memberontak pada pemerintah.
Siapa yang mati demikian maka ia mati di atas jahiliah.
Bahkan memberontak termasuk dosa besar.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barang siapa mengangkat senjata kepada
kami maka tidak termasuk golongan kami.” Para ‘ulama
menjelaskan bahwa setiap dosa yang Nabi berlepas diri dari pelakunya, maka itu
termasuk dosa besar.
Cukup bagi kalian terdapat pelajaran
dari orang-orang yang memberontak memberontak terhadap pemerintah-pemerintah
muslim, hasil apa yang mereka dapatkan? Mereka justru dibunuh dan menjadi
korban, tanpa ada hasil apapun. Akibat tidak mau mentaati perintah Allah dan
Rasul-Nya, yaitu perintah untuk bersabar menghadapi kezhaliman pemerintah. Para
‘ulama mengatakan, Hakim zhalum wal fitnah tadum (ketika ada pemimpin zhalim dan fitnah tidak berlanjut).
7. Berbakti kepada kedua orang tua. (Qs.
An-Nisa’ : 36). Dalam kitabnya al-Adab al-Mufrod, al-Bukhari meriwayatkan hadits “berbaktilah kepada orang tua niscaya anak-anak kalian berbakti kepada
kalian.”Durhaka kepada kedua orang tua termasuk dalam kategori dosa besar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Ada tiga yang tidak akan masuk al-Jannah, pezina, orang yang banyak minum
khamr, dan anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.”
8. Menjaga dan menjalin hubungan
silaturrahmi dengan kerabat. Allah telah mewasiatkan kepada kalian dengan
silaturrahmi. Maka wajib atas kalian menyambung silaturrahmi. Dalam Shahih al-Bukhari, “Bahwa rahim mengatakan, wahai Rabb-ku
ini si fulan telah menjalin hubungan silaturrahmi, maka sambungkanlah. Dan ini
si fulan memutuskan hubungan silaturrahmi, maka putuslah dia.”
Yakni karib kerabat kalian, baik dari
pihak ayah maupun pihak ibu.
9. Aku wasiatkan kepada kalian untuk
bersatu (berjamaah) dan waspadalah kalian dari furqoh (perpecahan). Allah berfirman, “Berpegangteguhlah kalian semua dengn tali Allah, dan janganlah kalian
berpecah belah.”(ali ‘Imran : 103)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berjamaah
adalah rahmat, sedangkan furqoh itu adzab.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani). Ath-Thahawi berkata,
“Kami melihat bahwa al-Jama’ah (bersatu) itu haq dan tepat, sedangkan furqah itu penyimpangan dan adzab.”
10. Aku wasiatkan kepada kalian untuk
senantiasa bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam tholabul ilmi. Sesungguhnya ilmu merupakan warisan para nabi. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka kalian harus mendapatkan warisan
ini.
Sekarang aku yang menyampaikan ini, maka
esok kalianlah yang menyampaikan.
Aku memohon kepada Allah agar memberikan
manfaat kepada kita dengan wasiat-wasiat ini. Wasiat yang disampaikan oleh
seseorang kepada saudara-saudaranya. Jaga dan peganglah wasiat tersebut, serta
ajarkanlah kepada orang-orang yang menunggu di balakang kalian.
Wallahu a’lam bishawab. Walhamdulillaah.
http://dammajhabibah.net/2013/08/26/wasiat-penutupan-dauroh-nasional-asy-syaikh-badr-al-badr/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar